PAUD Bukan Sekedar Persiapan SD

JAKARTAPendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan lagi sekedar sebagai pendidikan persiapan sebelum masuk sekolah (SD).

Hal ini ditegaskan Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, pada saat menjadi pembicara tunggal dalam seminar Peran Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Terhadap Pengembangan Generasi Emas Indonesia di Ukrida, Jakarta, Jumat (19/4).

PAUD, katanya, merupakan pendidikan yang sangat mendasar karena berperan ‘melejitkan’ semua potensi anak yang dibawa sejak lahir. Tahun pertama kehadiran anak di dunia merupakan priode kritis tetapi sekaligus menentukan bagi perkembangannya setelah dewasa.

Oleh karena itu, tambah Guru Besar Universitas Indonesia ini, dalam standar PAUD telah diberikan rambu-rambu bagaimana stimulasi pendidikan harus diberikan pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sejak usia 0-6 tahun, baik yang berkenaan dengan nilai-nilai agama dan moral, motorik kasar dan halus, kognitif, bahasa, maupun sosial-emosional.

“PAUD bukan hanya ada di satuan pendidikan TK ataupun lainnya. Sesungguhnya PAUD sudah dimulai sejak anak dilahirkan di dunia,” tambah psikolog keberbakatan ini.

Esensi PAUD, tambah Dirjen lagi, adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain sambil belajar.

“Cara pendekatan PAUD seperti ini diyakini mampu merangsang seluruh potensi kecerdasan anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,  karena anak tidak dihantui oleh rasa takut dan cemas,” tambah Dirjen.

Selain itu, Reni Akbar-Hawadi–sapaan akrab Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog— juga mengatakan anak akan belajar dan berlatih dalam suasana yang menyenangkan sesuai dengan dunianya, seperti dunia bermain.

“Anak yang belajar dan berlatih dalam suasana menyenangkan diyakini akan mampu menumbuh-kembangkan imajinasi, kreativitas, keberanian, dan kemandiriannya. Esensi PAUD yang seperti ini akan melahirkan generasi cerdas, tangguh, ulet, dan kreatif,”paparnya.

Semua Pihak

Saat menjawab pertanyaan peserta seminar yang yang sebagian besar para mahasiswa ini, Dirjen mengatakan mencetak generasi emas tidak bisa secara tiba-tiba. PAUD pada khususnya, dan pendidikan pada umumnya, merupakan investasi jangan panjang.

Menanamkan kejujuran, disiplin, cinta sesama, cinta tanah air, dan semua nilai yang positif pada anak perlu pembiasaan dan harus dilakukan secara terus menerus. Ini semua memerlukan keteladanan yang baik dan konsisten disamping penguasaan yang baik pula tentang prinsip-prinsip PAUD yang benar.

Untuk itu, kata Dirjen PAUDNI, persiapan dan pengembangan generasi emas ke depan perlu keterlibatan dan dukungan semua pihak, mulai dari orang tua, keluarga, masyarakat, perguruan tinggi, dan pemerintah.

“Peran orang tua sangat penting dalam posisinya sebagai pendidikan pertama dan utama. Keberhasilan PAUD dalam menyiapkan generasi emas ke depan akan terganggu tanpa adanya dukungan dari mereka semua,” paparnya.

Peran guru PAUD, katanya, juga sangat menentukan. Keterbatasan fasilitas lembaga PAUD sesungguhnya masih bisa diatasi jika guru atau pendidik piawai dapat memberdayakan semua yang ada di sekitar anak sebagai media atau sarana bantu pembelajaran.

“Mereka bisa memanfaatkannya menjadi alat permainan edukatif yang menyenangkan dan mencerdaskan bagi anak,” tambah Dirjen lagi.

Selain itu, Dirjen berharap semakin banyaknya perguruan tinggi yang memiliki jurusan PAUD atau konsentrasi PAUD akan sangat membantu peningkatkan kualitas ke depan, yang pada gilirannya juga akan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. “Dengan banyak mahasiswa yang memahami PAUD berarti juga akan mempersiapkan mereka sebagai pendidik. Paling tidak untuk anak mereka kelak,” tukas Dirjen. (Sugito/HK)

Sumber: http://www.paudni.kemdikbud.go.id/paud-bukan-sekedar-persiapan-sd/

Memahami Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu upaya pembinaan yangditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Beberapa dasar hukum yang berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah sebagai berikut :

  1. Pembukaan UUD 1945 ; Salah satu tujuan kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
  2. Amandemen UUD 1945 pasal 28 C
    Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
  3. UU No. 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Pasal 9 ayat (1)
    Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minta dan bakat.
  4. UU No 20/2003 pasal 28
    1. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
    2. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal, dan/atau informal.
    3. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
    4. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal berbentuk kelompok bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
    5. Pendidikan anak usia dini pada jalur informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

PAUD merupakan komitmen dunia

  • Komitmen Jomtien Thailand (1990)
    Pendidikan untuk semua orang, sejak lahir sampai menjelang ajal.
  • Deklarasi Dakkar (2000)
    Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini secara komprehensif terutama yang sangat rawan dan terlantar.
  • Deklarasi  “A World Fit For Children” di New York (2002)
    Penyediaan Pendidikan yang berkualitas

Pentingnya PAUD

  1. PAUD sebagai titik sentral strategi pembangunan sumber daya manusia dan sangat fundamental.
  2. PAUD memegang peranan penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, sebab merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak.
  3. Anak yang mendapatkan pembinaan sejak dini akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental yang akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar, etos kerja, produktivitas, pada akhirnya anak akan mampu lebih mandiri dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
  4. Merupakan Masa Golden Age (Usia Keemasan). Dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada anak usia dini menempati posisi yang paling vital yakni mencapai 80% perkembangan otak.
  5. Cerminan diri untuk melihat keberhasilan anak dimasa mendatang. Anak yang mendapatkan layanan baik semenjak usia 0-6 tahun memiliki harapan lebih besar untuk meraih keberhasilan di masa mendatang. Sebaliknya anak yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai membutuhkan perjuangan yang cukup berat untuk mengembangkan hidup selanjutnya.

Kondisi yang mempengaruhi Anak Usia Dini

  1. Faktor Bawaan: faktor yang diturunkan dari kedua orang tuanya, baik bersifat fisik maupun psikis.
  2. Faktor Lingkungan
    • Lingkungan dalam kandungan
    • Lngkungan di luar kandungan : lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah dll.

Sumber: http://www.paud.kemdiknas.go.id/

 

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan bagi anak usia dini sangat penting , karena saat itu dimulainya pembentukan mental dan karakter semasa kecil atau pada usia 0-5 tahun sebelum masuk sekolah pada tingkat pertama di sekolah dasar (SD). “Ini yang disebut masa masa emas pada si anak,” ujar Grace Ursia kepada Jubi belum lama ini di ruang kerjanya.

Menurut Grace melalui pendidikan pra sekolah ini, selain mental, seoarang anak dipersiapkan secara matang untuk bersaing, mempunyai ketrampilan tersendiri, menjadi seorang pemipin yang handal, dan berani tampil ditengah-tengah masyarakat.

Lebih lanjut jelas Grace bahwa latar belakang pelasaksanaan pengembangan pendidikan pra sekolah terdiri dari empat hal yaitu :

  • Setiap anak mempunyai hak untuk hidup dan berkembang, pemberian imunisasi, ASI, Gizi, Kesehatan, dan Monitoring pertumbuhan.
  • Hak Tumbuh kembang, Potensi masa Anak, Masa pertumbuhan, Usia Emas Golden Age : 0-5 tahun Simulasi Potensi Anak.
  • Hak Perlindungan, melindungi anak dari tindak kekerasan secara fisik, non fisik, diskriminasi dan eksploitasi, dan jaminan akte kelahiran.
  • Hak partisipasi, menjamin peran serta dan menghargai pendapat anak sesuai usia dan tingkat psikologisnya.

Bertolak dari empat hal diatas, maka menurut Grace ADP Port Numbay berusaha untuk melakukan pendidikan pra sekolah dengan nama program Wahana Pena Emas disosialisasikan kepada masyarakat sekitar tahun 2001.

“Wahana pena emas ini dilakukan bagi anak usia 0-5 tahun dan 5 -10 tahun. Di dalam program pena emas ini ada berbagai program yang dilakukan. Jadi bukan hanya pendidikan saja, karena lima tahun pertama kehidupan anak merupakan periode yang paling penting, “ujar Grace seraya menambahkan pada periode yang disebut “usia emas anak” atau “the golden age”, inilah tahun formatif untuk pembentukan untuk menentukan proses pembentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan potensi anak, yaitu perkembangan motorik (pembentukan keterampilan anak), mental dan panca indera, afeksi dan pengembangan daya pikir anak.

Selain itu lanjut dia anak mendapat jaminan yang memadai akan gizi/nutrisi, kesehatan untuk pertumbuhan dan pembentukan fisik, jika organ tubuh ini tidak dilakukan dengan baik maka anak mengalami “cacat permanen” atau cacat pengembangan potensinya.

Lebih lanjut kata Grace bukan hanya segi pendidikan dari anak saja yang diperhatikan tetapi segi kesehatan dan ekonomi kerakyatan dari masyarakat itu juga diperhatikan bersamaan dengan program pena emas ini. “Masyarakat yang menerima program pena emas ini. Kami berusaha untuk membentuk suatu Kelompok Studi Masyarakat (KSM)/ Kelompok Swadaya Anak (KSA), di beberapa distrik yang ada di Kota Jayapura. Selain itu kami berusaha untuk meminta kesepakatan dari masyarakat untuk bisa memberikan tanah bagi kami dengan memberikan perjanjian tanah selama lima belas tahun, untuk bisa ada pembangunan gedung KSM/KSA,” ujar Grace.

KSA program yang dibentuk berupa materi-materi yang dibagi dalam dua kelas yaitu kelas A dan B. “Untuk Materi kelas A : usia 3-4 tahun, materinya adalah melatih keselarasan motorik, penguatan percaya diri, pengembangan afeksi dan komunikasi aktif. Materi kelas B : Usia 4-5 tahun, materi yang diberikan adalah melatih ketrampilan berpikir, antara lain : menjodohkan, mengkasifikasikasifikasi, memahami hubungan, memahami pola, memecahkan pola, pengembangan bahasa lisa, persiapan membaca dan menulis, persiapan menghitung dan menjumlahkan. selain itu dalam KSA ini ada penambahan satu program yang dilakukan pada usia 5-10 tahun, denga materi yang diberikan yaitu : pengembangan keterampilan anak, penguatan daya pikir dan pemecahan masalah.

Hingga saat ini, di Jayapura ada sekitar 37 KSM yang berangotakan 1701 Kelompok Kerja (KK), yang sudah tersebar.

Sementara itu pakar pendidikan dari FKIP Uncen, Dr. Leonard Sagisolo, M.Pd ketika ditemui Jubi ruang kerjanya Senin (1/10), mengatakan pendidikan pra sekolah atau yang bisanya di sebut Pendidikan anak Usia Dini (PAUD), sangat penting walaupun bersifat di luar sekolah, karena secara tidak langsung sudah membentuk moral anak, daya pikir anak (kognitif), dan ketrampilan anak (psikomotor), ini mempunyai dampak yang baik bagi anak tersebut.

Ketika anak tersebut dibentuk secara bertahap dari pendidikan prasekolah selain TK mau pun Play Group atau kelompok bermain ini maka secara berurutan dan kedepan nanti anak tersebut akan mempunyai kreatifitas, ketrampilan dan kemampuan yang baik ketika berada pada pendidikan formal SD sampai pada perguruan tinggi. Hal ini sangat menolong anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik, dan menolong masyarakat yang kurang mampu serta masyarakat dan anak-anak yang orang tuanya jarang berada di rumah karena pekerjaan mereka yang banyak.

“Namun yang perlu diperhatikan oleh para pengasuh anak, yang melayani dan mendidik anak tersebut harus memiliki kesabaran, kelemah lembutan, dan kemauan untuk membentuk anak tersebut, kalau tidak maka mental anak tersebut akan terganggu,” ujar Sagisolo.
Selain itu, Yudith Manai, salah satu pengurus (Staf Seksi Anak) Pada Kelompok Studi Masyarakat (KSM) Cendrerawasih, yang beralamat di Jln Aru Kompleks PLN Abepura, mengatakan sebelum KSM Cenderawasih berdiri sendiri, mereka masih bergabung dengan KSM Merpati di Kompleks Gereja Harapan Abepura. Bangunan KSM Cenderawasih baru dibangun sejak bulan Mei 2007 dan selesai pada akhir bulan Juli 2007. Tapi belum diresmikan, karena fasilitas yang akan digunakan dalam KSM seperti Komputer, Meja dan Alat Tulis dan Buku belum ada.

“Yang baru ada itu kursi, jumlahnya ada dua puluh dua kursi. Selain fasilitas ini, kami belum ada taman bacaan, rencana akan kami buat taman bacaan di sekitar halaman gedung ini. Saat ini jumlah murid di KSM Cenderwasih sebanyak 184 murid,” ujar Yudith Manai.
Lebih lanjut kata Yudith meski belum diresmikan gedung yang sudah dibangun ini dengan fasilitas yang minim tetapi program tetap berjalan sesuai dengan materi yang di berikan oleh Yayasan Wahanan Visi Indonesia (WVI) seperti Play Group dan Ibadah setiap dua minggu sekali dalam satu bulan untuk anak-anak usia 3-10 tahun.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa KSM Merpati Bergabung dengan KSM Cenderawasih untuk melakukan ibadah di gedung KSM Cenderawasih. “Kegitan pembuatan bak air minum bagi anak yang membutuhkan bak air minum dirumahnya kami lakukan setiap ada permintaan dari si anak. Pembuatan kartu natal, les tambahan materi komputer dan pembuatan kartu natal di komputer yang dilakukan setiap sore hari tergantung jam sekolah dari anak tersebut,” ujar Yudith.

Sedangkan anak usia 0-1 tahun yang termasuk dalam Kelompok Swadaya Anak (KSA), program yang sudah dilakukan oleh KSM Cenderawasih antara lain Penguatan Gizi anak yang di dalamnya pemberian makanan bergizi, Pemberian Imunisasi dan campak serta Pengobatan telinga, biasanya dilakukan dalam tiga bulan sekali oleh Puskesmas karena WVI sudah bekerja sama dengan mereka. “Ini semua dilakukan secara gratis. Selain itu kami juga mendapat bantuan berupa mesin parut yang kami gunakan mencari modal untuk memenuhi kebutuhan dalam dalam KSM in,” ujar Yudith dengan serius. (Musa Abubar)

Sumber: http://www.paud.kemdiknas.go.id/